Loading

TAHUN 2018 DAN 2019 adalah masa-masa persiapan Pilkada maupun Pilres. Bagiamanapun karena Indonesia negara yang berdemokrasi, maka suasana politik akan merbak keseluruh pelosok tanah air. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya aktifitas politik ini akan menyita banyak waktu, SDM dan segala akifitas politik seperti kampanya dan sebagainya.

Dalam keadaan seperti tersebut diatas, maka kondisi pariwisata akan sulit berkembang, tensi politik akan sangat berpengaruh terhadap animo wisatawan, padahal untuk Asia Pasifik saat ini wisatawan naik naik 10%. Langkah yang harus kita tempuh adalah adanya upaya membuka jalur wisata alternatif dan MICE. Khusus untuk Jogja dan Bali, wisnus akan naik bila kebijakan sekolah dilarang piknis akan dihapus. Conference, Meeting, dll terkait MICE bisa dicreate walaupun berbau politik. Disisi lain, sementara bandara-bandara belum ditingkatkan standar pelayanannya, dan bandara Kulonprogro juga belum ada kepastian, maka target wisman 12 juta kunjungan akan sulit tercapai, kecuali ada MICE dan paket-paket olahraga tingkat Asean atau dunia, hal ini dikarenakan bahwa sifat customers saat ini bukan lagi MASS Tourism akan tetapi lebih bersifat alternatif tourism. Dalam hal ini pemerintah harus menjamin kenyamanan transportasi / penerbangan dan juga keamanan.

Secara general, jangan jadikan pilkada sebagai penghambat wisatawan untuk datang ke Indonesia. Bersikap dewasa dalam berpolitik justru akan menjadi poin plus untuk wisatawan, misalkan dengan bersikap sopan dijalanan karena pengguna jalan bukan hanya bangsa kita akan tetapi juga waisatawan, tidak mengganggu ketenangan wisatawan dan saling menghormati dijalanan. Pilkada dan Pilpres adalah bagian dari demokrasi dan kita sebagai bangsa besar sudah sewajarnya tidak berpolitik dengan mendahulukan emosi akan tetpi tetap mendahulukan akal pikir dan sikap dewasa harus tetap diutamakan. Dengan demikian mata dunia akan menyorot bahwa bangsa kita pantas dijadikan destinasi wisata tanpa dipengaruhi oleh iklimpolitik yang sedang berlangsung, justru kita jadikan era politik ini sebagai bagian dari budaya dan bisa dijadikan contoh oleh negara lain. Kalau gempa, banjir sekaligus bisa dijadikan wisata baru kenapa pilkada atau pilpres tidak. Mari kita jadikan negara ini sebagai negara yang disegani bangsa lain, tidak mudah goyah hanya dengan isu-isu politik. Mari menjadi bangsa yang besar dengan tetap mengagungkan budaya asli kita tanpa dikontaminasi suasana politik.

Oleh: Suhendroyono, SH., MM., M.Par., CHE. (Ketua STIPRAM)

Share this: