info@stipram.ac.id (0274) 485 650
Momentum Kebangkitan Pariwisata

PANDEMI Covid-19 yang belum juga usai hingga dua tahun berjalan telah memukul perekonomian global. Salah satu sektor yang cukup telak terkena imbasnya adalah sektor pariwisata. Bagaimana situasi kini dan prospek pariwisata ke depan, MEDIA INFO WISATA telah melakukan wawancara dengan Ketua STIPRAM Jogja Yang sekaligus Ketua Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi pariwisata Indonesia (HILDIKTIPARI), Dr. Suhendroyono, SH, MM, M.Par. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda melihat pariwisata saat ini sebagai imbas dari Pandemi Covid-19?

Harus kita akui dampak Pandemi Covid-19 telah membuat perekonomian global terpuruk. Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul. Meski saat ini saya melihat Pandemi Covid-19 yang disusul dengan Virus Omicron mulai melandai, namun jangan bermimpi pariwisata akan cepat pulih seperti sedia kala.

Ini artinya pariwisata di Tahun 2022 masih suram?

Saya tidak mengatakan suram. Tapi kondisinya akan lebih baik disbanding 1 atau 2 tahun yang lalu. Justru mulai melandainya Pandemi Covid-19 di banyak negara, termasuk di beberapa daerah di Indonesia, menunjukkan saat inilah momentum kebangkitan pariwisata nasional maupun global.

Anda optimis pariwisata akan membaik?

Harus optimis. Sebab pariwisata sudah menjadi bagian gaya hidup semua orang di era saat ini dan ke masa depan. Pariwisata sudah jadi kebutuhan hidup. Ini nyata dan fakta. Ingat pariwisata adalah penyumbang devisa terbesar kedua bagi negara kita. Dua tahun lebih masyarakat terkungkung di rumah. Kini mereka sudah jenuh dan gerah. Mereka sudah rindu berwisata. Itu terlihat setiap weekend pasti terjadi lonjakan mobilitas orang berwisata, termasuk di Jogja.

Rindu berwisata, pastinya akan memicu mobilitas dan kerumunan?

Itu sudah konsekuensi logis. Sekali lagi saya tegaskan, masyarakat sudah jenuh di rumah terus. Tak bisa lagi dikekang untuk tidak keluar rumah. Keinginan berwisata pun tidak bisa dibendung lagi. Kini kuncinya adalah soal penerapan prokes (protocol Kesehatan). Ini wajib ditaati dengan penuh disiplin. Masyarakat jangan abai, jangan lengah, apalagi sampai teledor dalam hal prokes.

Lalu, apa yang diharapkan pelaku pariwisata pada pemerintah guna percepatan pemulihan sektor pariwisata?

Kelonggaran. Harus mulai ada kelonggaran atas regulasi yang ada. Misalnya soal karantina, soal kewajiban swab antigen, jaga jarak, dsb. Beberapa bandara seperti Bali, Jakarta dan Jogja saya kira saatnya pula dibuka lagi jalur penerbangan internasional. Saya kira ini harapan paling real dari pelaku pariwisata kita.

Sebagai Ketua HILDIKTIPARI, bagaimana kondisi para anggotanya?

Sejauh ini semua anggota HILDIKTIPARI tetap eksis. Meski semuanya terkena imbas dari Pandemi Covid-19, namun mereka  tetap menjalankan kegiatan akademiknya dengan baik. Taka da yang tutup. Dan semua anggotanya memiliki satu pemahaman dan semangat yang sama dalam menghadapi Pandemi Covid-19 ini.

STIPRAM Jogja sendiri bagaimana?

Syukur Alhamdulillah STIPRAM Jogja tetap bisa mengatasi semua persoalan sulit akibat Pandemi Covid-19 ini. Memang kegiatan perkuliahan cukup terganggu. Tapi kami tetap memiliki strategi tersendiri. Dan kamipun terus memacu dan meningkatkan skill akademik pada para Dosen. Dengan demikian akan mampu meningkatkan mutu dari lulusan STIPRAM Jogja untuk siap menghadapi persaingan yang makin ketat dan kian kompetitif di dunia kerja saat ini. Dan saya bersyukur sekaligus bangga, banyak dari mahasiswa kami yang tetap mampu mengukir prestasi selama pandemi ini. Baik di forum nasional, regional maupun internasional.

Apa komentar Anda tentang pariwisata DIY saat ini?

Saya melihat sudah pada jalur yang benar. Jogja tetap memiliki pesona tersendiri. Ada karakter yang dimiliki Jogja yang tak dimiliki daerah lain. Malioboro misalnya. Mana ada daerah lain punya kawasan sebagaimana Malioboro. Saya melihat kebijakan penertiban atau relokasi kakai lima di Malioboo sudah tepat. Ini kebijakan yang bagus. Saya dukung. Sebab pada gilirannya akan membuat wisatawan merasa lebih nyaman, aman dan enjoy saat berada di Malioboro. Satu hal yang harus dilakukan adalah sinergitas antara pemerintah-pelaku pariwisata dan masyarakat harus terjalin baik. Jnagan sampai masing-masing, jalan sendiri-sendiri. Ini kuncinya.

Terakhir, bagaimana Anda melihat imbas konflik Rusia-Ukrania dalam konteks pariwisata global?

Saya kira untuk saat ini belum berdampak signifikan bagi pariwisata kita. Sebab saya lihat Rusia dan ukrania bukanlah target pasar utama pariwisata kita. Tapi kalau perang itu berlarut-larut, bisa saja akhirnya berimbas ke pariwisata kita. Mudah-mudahan konflik dua negara itu segera berakhir melalui meja perundingan. (Herlambang JL)